JAKARTA, TRENDINGNEWS - Pada rasa khawatir atas kondisi tubuh bisa berubah menjadi rasa cemas berlebihan meskipun tanpa di awali gejala medis yang jelas.
Pada kondisi ini sangat dikenal sebagai health anxiety.
Psikolog sendiri telah menilai bahwa tanpa adanya pengelolaan yang tepat, pada kecemasan ini akan dapat menurunkan kualitas pada hidup.
BACA JUGA:Resmi! John Herdman Datang untuk Menyelamatkan Timnas Indonesia
Kini fenomena pada health anxiety tidak lagi termasuk golongan kasus langka.
Laporan daro Women’s Health telah menyebut bahwa ada sekitar 4–5 persen dari populasi mengalami kecemasan berlebihan terhadap kesehatan, namun angka sebenarnya diyakini lebih tinggi dikarenakan banyak kasus tidak terdiagnosis.
Harvard Health bahkan telah memperkirakan prevalensinya bisa mencapai dua kali lipat, terutama pada kelompok usia muda yang ,asoj aktif mencari informasi kesehatan secara daring.
Psikolog klinis dan Chief Clinical Officer Neurobehavioral Institute, E. Katia Moritz, PhD, menilai kebiasaan mendiagnosis diri sendiri melalui internet menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ini.
BACA JUGA:Dedi Mulyadi Tanggapi Sindiran Pandji soal Gubernur Artis: Sayang Sekali Bang Pandji
“Health anxiety tidak membantu seseorang menjadi lebih sehat, justru menciptakan tekanan mental dan emosional yang tidak perlu,” ujar Moritz, dikutip dari Women’s Health.
Secara psikologis, bahwa pada health anxiety dapat masuk ke dalam beberapa kategori pada gangguan.
Seperti pada illness anxiety disorder, somatic symptom disorder atau pada bagian dari gangguan obsesif kompulsif (OCD).
Psikoterapis asal New York, Olivia Verhulst, LMHC, telah menjelaskan bahwa illness anxiety disorder ditandai dengan ketakutan terus-menerus terhadap penyakit serius meski hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi normal.
BACA JUGA:Rating Drama Korea On Going Pekan Pertama Januari 2026: Taxi Driver 3 Melejit!
Pada kondisi ini telah disertai atas perilaku kompulsif.